Bismillah,
Kisahku dengan dia yang namanya tidak ingin kuutarakan (2).
Bisa dilihat dari tulisanku sebelumnya bahwa aku begitu mengaguminya, bahkan mungkin mencintainya.
Tapi bagaimana rasanya ketika dia yang kuicnta itu, kami akan berpisah, walau dengan cara yang baik-baik?
Padahal, kita baru bertemu, mengapa begitu cepat berpisah?
Padahal, kita baru bertemu, mengapa begitu cepat berpisah?
Sakit sekali rasanya. Bagaikan ditebas, jangankan 300 pedang, 1 pedang saja pun perih.
Kau mengajak bertemu , seperti biasa.
Sangat tiba-tiba,
sehingga tidak semua yang hadir, hanya ada aku, dan 2 orang temanku yang lain.
Betapa bahagianya aku selama ini tidak bertatap muka denganmu dan pada hari itu, aku melihat kau yang mengenakan jilbab hijau, yah, kali ini kita tidak sama, aku memakai jilbab dark blue.
Kau tersenyum padaku.
Akupun jua.
Seperti biasa, aku salah tingkah di depanmu.
Terlalu grogi aku melihatmu.
Ketika itu, aku masih berdua bersama temanku,
Tiba-tiba temanku itu keluar, hendak menjemput teman, katanya.
Sehingga, tinggallah aku berdua denganmu.
Rasanya?
Hatiku dag dig dug.
Aku terlalu bahagia berjumpa denganmu, murabbiku.
Kau tersenyum menatapku, dan kemudian bertanya,
‘’Apa kabar, dyah?’’
‘’Alhamdulillah, baik..’’ ucapku juga membalas senyummu.
Aku berusaha untuk santai, tapi tak bisa dipungkiri bahwa aku begitu gugup.
Dan sampai sekarang aku tidak tau alasannya mengapa.
‘’Hm,,perihal, kalian akan ditransfer, bagaimana menurut dyah?’’ tanyamu ragu-ragu.
Aku diam, menatapmu dengan senyum kecil.
‘’Ga’ mau kak.’’ Ucapku singkat, tegas.
Kau terdiam. Kau mencoba tersenyum.
Kau terlihat galau. Tampak dari wajahmu yang menyimpan begitu kebingungan dan memikirkan cara.
Kau menjelaskan bahwa kau sudah banyak memegang halaqah.
Kau juga mengatakan bahwa halaqah mu yang lain, tidak ingin dipisahkan darimu.
Kau menggatakan bahwa kami lah, yang harus melatih diri untuk dewasa dan bisa memahami. Dan kau yakin itu.
Kau meminta aku, dan yang lain mengerti akan kondisi.
Aku tau, kau sibuk kak.
Aku tau, jam terbangmu begitu padat.
Aku sangat tau, bahwa semua orang melihatmu, semua orang memanggilmu.
Aku tau itu.
Aku menunduk,
Tak kuasa aku melihatmu.
Aku ingin menangis pada saat itu.
Tapi aku malu.
Dan aku ga mau membuatmu susah.
Aku tau, bahwa saat itu kau sedang tidak enak badan.
Aku tidak ingin menambah bebanmu.
Kurasa,
Kau dapat melihat bahwa aku menahan tangis.
Ketika kau terus bertanya,
‘’bagaimana?’’
Aku hanya melihatmu dan menggeleng.
‘’Masih berat, masih gak ikhlas, kak..’’ ucapku langsung menunduk.
Hatiku perih sekali. Berat sekali.
Rasanya bagaikan seseorang yang diputusi kekasihnya, mungkin.
Tapi bagiku, ini sangatlah sakit.
Kau terdiam.
Kau tersenyum dan mencoba melapangkan hatiku,
‘’Hm, gak mau, sama gak ikhlas itu beda..’’
Aku tetap menunduk menahan butiran bening itu agar tidak keluar dari mataku.
Walaupun aku merasa, ia sudah keluar sedikit di ujung pelupuk mata.
Dan kurasa kau melihantnya dan merasakannya.
Kau sungguh cerdas,
Kau alihkan kegalauan hatiku dengan cerita pilkada yang sebentar lagi akan dilakukan di sini.
Kau cerita panjang lebar tentang itu yang sama sekali tidak kumengerti.
Aku tau, kau hanya ingin mengalihkan perhatian dan hatiku.
Dan benar. Setelah sekian lama, kau rasa itu cukup untuk mengobati hatiku,
Kau kembali bertanya, entah kenapa, hanya padaku,
‘’bagaimana, dyah?’’
Aku tersenyum.
‘’Speechless kak..’’
Kau tertawa kecil. Dan tetap berusaha menenangkan hatiku kembali dengan berbagai nasihatmu.
Aku mencoba untuk paham.
‘’Jika semua yang kita ingin, kita dapati, bagaimana kita belajar dewasa dan bersyukur?’’
Ucapmu.
Aku terdiam. Lemas.
Tiba-tiba entah mengapa, seperti ada yang membisikkan,
‘’Jika kau cinta dia, pahami keadaannya, karena cinta itu, akan berusaha untuk membuat orang yang dicinta bahagia..
Dan 1 hal, ternyata aku baru memahami, bahwa inilah cinta.
Ia berbeda dengan rasa ingin memiliki.
Dan entah mengapa juga, hatiku terasa lapang.
Mungkin karena aku benar-benar mencintaimu karena Tuhanku, kak.
Sepertinya, kau melihat titik terang dari kegalauan.
Kau tersenyum, tapi aku tau, pikiranmu masih kacau.
Aku tidak tega melihatmu, kondisimu sedang tidak fit.
Kita pulang.
Malamnya,
Usai shalat maghrib, aku mengirim pesan singkat padamu,
‘’rasa berat itu pasti ada kak.
Karena kakak udah ada di hati saya.
Karena saya sayang sama kakak,
Saya mencoba untuk ihklas apapun keputusan kakak..’’
Bismillah.
Aku nekat mengirimkan ungkapan hati itu.
Padahal masih banyak lagi.
Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku mencintaimu,
Tapi berat sekali bibir ini berucap.
Aku tidak pandai menyatakan perasaan cinta, baik pada siapapun.
Kau membalas,
‘’dyah, uhibbuki fillah, dek..’’ ( Aku mencintaimu karena Allah )
Aku hampir menangis membaca balasan singkatmu itu.
Mengingat bahwa aku sedang bersama teman, aku menahan tangisku.
Sakit sekali loh rasanya.
Aku membalas pesanmu.
‘’uhibbuki aidhan, kak.’’ ( Aku mencintaimu karena Allah juga )
Rasanya aku ingin memelukmu,
Ya, yang terparah, aku ingin memilikimu, untuk selalu jadi murabbiku.
Aku ditegur oleh bisikan hati,
Ingat surah Al Baqarah : 216
‘’Boleh jadi, apa yang tidak kau suka itu baik bagimu, dan boleh jadi apa yang kau suka itu tidak baik bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak..’’
Dan juga hadist,
‘’Cintailah saudaramu sekedarnya saja, bisa jadi ia akan menjadi orang yang kau benci, dan bencilah saudaramu sekedarnya saja, bisa jadi dia akan menjadi orang yang kau cintai..’’
Untukmu, murabbiku.
Terima kasih,
Walalupun hanya sebentar, Tak kusangka, pertemua kita hanya 2 kali, pertama dan terakhir.
Tapi, walaupun begitu,
Tapi, walaupun begitu,
Kau begitu melekat di hati.
Uhibbuki, fillah..
*Murabbi = guru.
#Cocoknya tulisan ini masuk di buku ‘’Surat Cinta Untuk Murabbi’’ kali ya? Heheh.
@diyasang























0 komentar:
Posting Komentar